Kasus santri bakar pesantren di Aceh Besar menggegerkan masyarakat. Seorang santri di Pondok Pesantren Babul Maghfirah, tempat Ustaz Masrul Aidi mengasuh para santri, membakar asrama karena tidak tahan menghadapi bullying. Ia bertindak nekat setelah lama menahan ejekan dari teman-temannya.
Santri tersebut mengaku sering diejek dengan kata-kata kasar seperti “idiot” dan “tolol”. Perlakuan itu membuatnya tertekan hingga kehilangan kendali. Dalam kondisi emosi memuncak, ia menyalakan api di asrama tempat para santri tinggal.
Motif Santri Bakar Pesantren di Aceh Besar
Kapolresta Banda Aceh, Kombes Joko Heri Purwono, menjelaskan bahwa pelaku membakar asrama karena dendam terhadap teman-temannya.
“Pelaku merasa dipermalukan dan ingin membalas perbuatan mereka dengan membakar barang-barang milik teman yang sering menghina dirinya,” kata Joko Heri, Kamis (6/11/2025).
Menurut polisi, tindakan itu muncul karena tekanan emosional yang sudah berlangsung lama. Pelaku tidak pernah mendapatkan bantuan psikologis atau dukungan dari pihak pesantren, sehingga kemarahan yang ia pendam meledak dalam bentuk tindakan destruktif.
Polisi Dalami Kasus Perundungan di Pesantren
Pihak kepolisian kini memeriksa para santri dan pengurus pesantren untuk mengetahui sejauh mana tindakan perundungan terjadi. Petugas juga mencari tahu apakah pelaku pernah melaporkan masalah ini sebelumnya.
“Kami sedang memeriksa beberapa saksi untuk memastikan siapa saja yang terlibat dalam tindakan bullying itu,” ujar Joko Heri.
Tim penyidik menegaskan, kasus ini tidak berhenti pada pelaku pembakaran saja. Polisi berencana menindak siapa pun yang terbukti melakukan perundungan hingga memicu tragedi ini.
Baca berita lainnya :”Pemasok Narkoba ke Onad Ditangkap, Polisi Ungkap Fakta Mengejutkan“
Bullying Bisa Memicu Aksi Berbahaya
Kasus santri bakar pesantren ini menunjukkan bagaimana perundungan dapat berubah menjadi bencana. Bullying tidak hanya menurunkan rasa percaya diri korban, tetapi juga bisa mendorong seseorang melakukan tindakan ekstrem.
Psikolog anak dan remaja menilai bahwa korban bullying yang tidak mendapat dukungan biasanya menyimpan emosi dalam waktu lama. Ketika tekanan semakin besar, mereka bisa melampiaskan kemarahan dengan cara yang berbahaya bagi diri sendiri maupun orang lain.
Pesantren dan sekolah perlu menciptakan lingkungan yang aman dan saling menghormati. Guru, ustaz, dan pembina harus aktif memantau perilaku santri untuk mencegah perundungan sejak dini.
Pelajaran dari Kasus Santri Bakar Pesantren Babul Maghfirah
Tragedi ini menjadi peringatan bagi semua pihak bahwa bullying bukan masalah sepele. Setiap ejekan, hinaan, atau pengucilan dapat melukai hati seseorang hingga kehilangan kendali.
Pihak pesantren, orang tua, dan masyarakat perlu bekerja sama dalam membangun budaya empati. Santri harus belajar menghargai satu sama lain agar tidak ada lagi korban yang merasa tersakiti hingga melakukan tindakan fatal.
Kasus santri bakar pesantren Babul Maghfirah diharapkan menjadi pelajaran penting tentang pentingnya komunikasi, pendampingan mental, dan pendidikan karakter di lingkungan pesantren.

