60 Warga Palestina Tewas di Gaza Saat Netanyahu Pidato di PBB

warga Palestina tewas di Gaza

Serbuan Militer Israel dan Dampaknya pada Masyarakat Gaza

GAZA – Militer Israel menewaskan 60 warga Palestina di Gaza pada Jumat, 26 September 2025, bersamaan dengan pidato Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Netanyahu menegaskan komitmennya “menuntaskan tugas melawan Hamas,” sementara warga sipil Gaza terus menghadapi serbuan udara dan darat.

Sumber medis melaporkan 30 korban tewas berada di Kota Gaza, khususnya di kawasan Jalur al-Wehda, kamp Shati, dan permukiman Nassr. Satu serbuan juga menghantam permukiman Remal, menimbulkan kepanikan di tengah warga yang masih bertahan di rumah masing-masing.

“Suasana semakin memburuk seiring meningkatnya serbuan Israel yang menargetkan berbagai lokasi. Warga sipil mencari perlindungan sementara tim medis mengevakuasi jenazah,” ujar Ibrahim al-Khalili dari Al Jazeera.

PBB memperingatkan bahwa serbuan udara berlangsung setiap 8–9 menit sepanjang 24 jam terakhir, menimbulkan kehancuran signifikan bagi masyarakat sipil. Selain itu, 13 orang tewas saat berusaha mendapatkan bantuan dari fasilitas kesehatan yang dikelola oleh GHF, lembaga yang mendapat dukungan dari Israel dan Amerika Serikat.

Pidato Netanyahu di PBB dan Reaksi Dunia

Pidato Netanyahu di PBB menimbulkan kontroversi. Beberapa delegasi meninggalkan ruang sidang sebagai protes terhadap tindakan militer Israel. Netanyahu bahkan mengklaim pidatonya disiarkan langsung ke Gaza melalui pengeras suara dan telepon, namun warga Palestina membantah klaim tersebut.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa negosiasi hampir tercapai untuk mengakhiri perang dan memulangkan para sandera. Trump menyebut konvensi tersebut akan menjadi langkah untuk mengakhiri konflik, meski tidak memberikan rincian atau jadwal pasti.

Krisis Kemanusiaan Meningkat di Gaza

Kondisi di Gaza semakin kritis. Sumber medis melaporkan seorang remaja berusia 17 tahun meninggal akibat kelaparan dan minimnya perawatan medis di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa. Departemen Kesehatan Palestina mencatat 440 kematian terkait malnutrisi, termasuk 147 anak-anak.

Doctors Without Borders (MSF) terpaksa menangguhkan layanan medis di Kota Gaza akibat serangan udara dan tank Israel yang membahayakan staf dan pasien. Jacob Granger, koordinator darurat MSF, menyebut kebutuhan medis warga Gaza sangat mendesak, tetapi akses bantuan terhambat.

Tom Fletcher, kepala kemanusiaan PBB, menegaskan:

“Kami menghadapi tantangan besar dalam penyaluran bantuan yang datang dari otoritas Israel. Ratusan ribu orang bisa tertolong jika ada komitmen nyata untuk menghentikan kelaparan.”

Ratusan ribu warga Palestina kini terjebak di Kota Gaza, rumah sakit kewalahan, dan pasokan medis menipis. Kondisi ini memperparah krisis kemanusiaan yang sudah berlangsung lama, sementara dunia internasional mengawasi perkembangan konflik.

By jdcuy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *